Cerita Pendek Perkemahan Pramuka

                      
                     TUGAS BAHASA
                           INDONESIA
                      

Nama       : Miranti Ayu Andini
No. Absen  : 24
Kelas      : XI Adm. Perkantoran 1



MEMBUAT CERPEN (Cerita Pendek)

“PERKEMAHAN PRAMUKA KELAS X”
Oleh :
-MIRANTI AA-
Pramuka adalah salah satu ekstrakulikuler wajib yang harus diikuti di sekolahku. Kegiatan yang paling Aku tidak suka di kepramukaan adalah mengikuti perkemahan. Ya, perkemahan yang menyebalkan sekaligus menyeramkan. Menyebalkan karena harus membawa tas ransel yang begitu penuh dan juga berat. Menyeramkan karena aku pernah melihat sesosok hantu saat kemping perdanaku di waktu SD, jadi wajar saja jika Aku trauma.
Pada hari jumat, sabtu dan minggu, sekolahku akan mengadakan kegiatan yang menyebalkan ini. Ya, apalagi kalau bukan perkemahan pramuka. Rasanya ingin sekali Aku tidak mengikutinya. Tapi apa daya, ini demi nilai. Dengan terpaksa Aku mengikutinya.  Beberapa hari sebelum kemping  biasanya Aku sangat sibuk.  Aku siiibuk seekaliii *song di kartun shincan*. Mulai dari menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa sampai menyiapkan mental. Makanan, banyak. Air minum, sedia. Tiker, bawa. Pakaian, lengkap. Peralatan mandi, ada. Kayanya perlengkapan pribadi udah semua deh. Peralatan sangga? Udah disiapin di kelas sedari dulu, intinya mah biar ga repot bawa banyak barang. Begitulah Aku menyiapkan perbekalanku untuk dibawa ke medan perang. Maksudku ke perkemahan.
“Jangan lupa bawa obat-obatan, jaga kesehatan, jaga sikap, jangan ngomong sembarangan..”  begitulah nasihat dari mamahku.
            Terlihat digerbang sekolah, murid-murid tengah sibuk dengan barang bawaan mereka masing-masing. Ada yang dibawakan oleh orangtuanya, ada yang gotong royong dengan kawannya, ada juga yang membawanya sendirian, contohnya Aku. Mengenaskan.
Aku sudah mempersiapkan perkemahan ini dengan begitu matang. Aku yakin akan berjalan lancar. Pakaian pramuka sudah rapih kukenakan, lengkap dengan almamater sanggaku yaitu “PENCOBA”. Akan tetapi kacu belum dipakai, karena pelantikan belum usai.
Pukul 7.30 dilapangan sekolah belakang, kami mengadakan upacara pembukaan.
“Yaelah..Ini upacara lama banget” Gerutuku.
Huuhh.. kira-kira sudah 1 jam lebih kami berdiri. Rasanya lelah, perutku mual dan kepalaku pusing. Hampir saja Aku jatuh pingsan, untungnya ada anggota PMR yang menahanku dari belakang. Dan UKS Aku datang. Padahal belum juga berangkat eh udah sakit duluan. Aku mah gitu orangnya.
            Suara klakson mobil sudah terdengar. Kira-kira ada 15 mobil elp yang sudah terpakir dilapangan depan sekolahku.
            “Waahh udah gak sabar mau berangkat..” Kata salah satu temanku.


Dalam hati Aku hanya bisa berkata  “Bismillah..”
            Semua barang-barang perlengkapan kelompok sudah diangkut ke dalam mobil truk. Suasana dilapangan terlihat begitu ramai, padat merayap. Seperti arus mudik. Aku dan gerombolan kelas ku segera memasuki mobil elp. Rasanya ingin segera sampai ke sana, ke Bumi Perkemahan Sadamantra. Dari namanya saja sudah mengerikan bukan, Sa-da-man-tra. Ada mantra-mantranya. Wih seram. Aku penasaran sekali dengan tempatnya, apakah seseram namanya?.
Tiba-tiba ketika diperjalanan kepalaku  sedikit pusing karena keadaan jalan yang berlubang sehingga mobil menjadi bergoyang-goyang, seperti konser dangdut. Suaraku sudah berubah serak, tenggorokan ku kering, sariawan, bibir pecah-pecah *bukan iklan minuman panas dalam*. Wajahku juga sudah terlihat agak memucat.
“Mir, kamu sakit?” temanku bertanya.
“Gak kenapa-kenapa kok” jawabku berbohong.
Aku hanya tidak ingin merepotkan temanku. Akan tetapi keadaan sebenarnya Aku malah merepotkan mereka. Sesampainya di Sadamantra kami langsung membangun tenda. Tenda kami tidak cukup kecil dan juga tidak cukup besar. Udara disana cukup membuatku kedinginan. Padahal terik matahari menyorot dengan tajam. Angin-angin beterbangan sehingga menimbulkan efek mini badai pasir yang bisa memerihkan mata. Pedih.
Ketika malam tiba, ini yang paling Aku tidak sukai. Cuacanya ekstrim sekali. Dingin, benar-benar dingin. Aku yang sehari-hari tinggal di daerah yang dekat dengan pantai, otomatis langsung terkejut akan udara malam hari di Sadamantra sana. Kakiku gemetar, tanganku dingin seperti es, Aku demam. Dan akhirnya selamat datang posko PMR. Aku bertemu petugas PMR yang ketika disekolah untuk kedua kalinya.
            Udara pagi nan sejuk terasa. Aku dengan setengah kesadaranku berjalan keluar dari posko PMR menuju tenda Sanggaku. Tampak teman-teman satu sanggaku tengah sibuk mempersiapkan peralatan untuk hiking mencari jejak. Rencananya Aku ingin sekali ikut. Akan tetapi keadaan mengharuskan Aku tetap tinggal ditenda bersama satu temanku untuk menjaga tenda. Semua anak-anak yang mengikuti hiking telah berangkat. Lapangan perkemahan kini sepi, tersisa sedikit orang untuk bersiap-siap mengikuti lomba memasak. Ketika Aku ingin berkumpul untuk mendengar informasi tentang lomba masak, Aku terburu-buru berlari. Hingga akhirnya Aku tersandung pasak tenda milik orang. Untungnya tenda itu tidak roboh. Akan tetapi kakiku berdarah akibat terjatuh. Aku pun menjadi bahan tertawaan. Mengenaskan bukan.
Ketika malam api unggun Aku masih sakit. Aku berada di posko PMR. Ketika Aku bangun dari tidurku, Aku kaget melihat posko yang tadinya sepi sekarang sudah berjejeran manusia. Rupanya mereka semua tidak tahan terhadap udara dingin sepertiku. Karena Aku merasa tidak nyaman diposko PMR, akhirnya Aku memutuskan untuk pergi ke tenda sangga. Temanku  membuatkan ku minuman hangat, karena melihat keadaanku yang begitu memprihatinkan. Kedinginan.
“Mir coba minum ini..” Sambil menyodorkan segelas minuman hangat.
“Maaf sudah banyak merepotkan.” Tuturku
           

Acara api unggun telah usai, semua kembali ke tenda sangga masing-masing. Tiba-tiba terdengar ada suara seperti teriakan orang. Seperti orang kesurupan. Aku dan teman-teman satu tendaku panik. Akan tetapi Aku terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Kakak-kakak kelas pun nampaknya sedang menenangkan keadaan tenda yang mulai riuh. Terlihat cahaya lampu senter menyorot kearah tenda kami.

         “De.. tidur de.. jangan berisik!” ucap kakak kelas yang sedang mengontrol.

         Keesokan harinya Aku langganan ke posko PMR. Lagi. Mual, pusing, ah pokoknya sama rasa. Kaka PMR menawariku untuk makan nasi, tapi Aku menolaknya. Melihatnya saja aku sudah…. ah sudah lah. Lalu Aku diberi dua keping biskuit. Aku coba memakannya, akan tetapi tetap saja aku merasa mual. Karena Aku merasa tidak enak dengan Kaka kelas, akhirnya Aku menyembunyikan satu kepingnya lagi dibawah tikar.

         “De mau nambah lagi?” Kaka PMR baik hati
         “Ga usah ka makasih” *Masa mau diumpetin dibawah tiker lagi*

         Tiba-tiba seseorang disebelahku mengajak ngobrol. Intro gitu lah, tanya nama dan kelas. Tapi yang membuat Aku terkejut ketika dia membahas tentang..

         “Waktu malem kamu denger ada orang teriak-teriak gak?”
         “Iya denger, ngeri banget. Kayanya ada yang kesurupan deh. Kelas 10 mungkin.”  Kronologisku
         “Iya itu tuh Aku”
         “Kamu?” aku kaget dengan ekspresi mata melotot

         Dia menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin malam, mulai dari mengapa sampai bagaimana ia menuturkannya. Aku hanya bisa mendengarkannya dengan khusyu dan agak merinding. Lalu Aku mulai takut dengan dia, akhirnya Aku memutuskan untuk pergi ke tenda sangga. Mistis.
“Besok pulang, yee besok pulang” sorakku dalam hati
            Senangnya bukan main, akhirnya masa-masa penyiksaan telah usai. Merdeka!.
Pagi cerah telah tiba. Tinggal menunggu detik-detik proses penghancuran tenda. Senang sekali akhirnya usai juga kemping ini. Sayangnya Aku sakit, jadi seperti tidak berkesan. Tapi sudahlah yang terpenting Aku ingin segera pulang kerumah. Aku sangat rindu dengan Mamah dan juga Papah. Aku juga rindu ingin segera tidur dikamar ku tercinta.
            Lapangan perkemahan kini telah rata dengan tanah seperti keadaan dimana kami datang. Yang tersisa hanya sampah-sampah yang beserakan dan puing-puing bekas pembakaran api unggun. Kami telah melaksankan upacara penutupan. Kami pun mendapatkan kacu pramuka, dengan segera kami pakai. Dan lihat, lengkap sudahlah pakaian pramuka kami.
“TIIINN.. TIIINN..”

             Suara mobil elp jemputan terdengar. Tidak sabar Aku ingin segera pulang. Selamat tinggal udara dingin. Selamat tinggal posko PMR. Selamat tinggal antrian WC. Selamat tinggal kemping. Selamat tinggal Sadamantra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Just human

Puisi Hujan di Sekolah